Generasi Muda Papua Harus Diberi Ruang Untuk Maju

Share it:
Ketua LMA Port Numbay, George Awi saat memberikan sambutan
Salatiga, Dharapos.com
Pemerintah Pusat harus memberi ruang seluas-luasnya kepada generasi muda Papua termasuk di dalamnya putra-putri Port Numbay  untuk maju dan berkembang, salah satunya dalam bidang pendidikan.

“Pendidikan merupakan satu investasi yang sangat besar nilainya dan tidak bisa diukur sehingga dengan dukungan Dana Otonomi Khusus, Wali Kota Jayapura DR. Benhur Mano telah melakukan berbagai terobosan dalam upaya membangun sumber daya manusia (SDM),” ungkap Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay George Awi saat menyampaikan sambutannya pada acara peresmian Asrama Mahasiswa Port Numbay, di Kota Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu (25/6).

Pasalnya, SDM sebagai suatu investasi yang tidak bisa diukur maka perlu ditanamkan untuk menjawab kebutuhan 20 sampai 30 tahun mendatang seirama dengan pembangunan yang ada di kota Jayapura khususnya dan Papua pada umumnya.

“Karena itu kalau Papua tidak maju dan tidak diberikan ruang maka yang tidak maju adalah Indonesia karena Papua merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Olehnya itu, Awi mengapresiasi Wali Kota DR. BenhurTomi Mano yang bukan saja berwacana tapi sudah mewujudnyatakan dengan tindakan nyata.

Lanjutnya, situasi politik terkini menuntut agar Bhinneka Tunggal Ika betul-betul diwujudnyatakan dan bukan hanya lips service saja. Dan hal itu telah dimulai oleh Wali Kota Salatiga dengan  memberikan ruang dan tempat bagi pembangunan asrama Port Numbay di kota yang terkenal dengan kesejukkannya.

Diakuinya pula, saat anak-anak Port Numbay membawakan tarian adat Papua, selaku Ketua LMA dirinya terharu bahkan sempat mengeluarkan air mata saat memberikan sambutan.

“Karena anak-anak Port Numbay walaupun menuntut ilmu di tanah rantau namun mereka bisa memperlihatkan kepada masyarakat Salatiga bahwa adat Port Numbay betul-betul dilestarikan bukan saja di Kota Jayapura, namun di luar Papua pun mereka lestarikan,” akuinya.

Awi mengaku sempat berpikir bahwa di era globalisasi seperti ini keberadaan generasi seangkatannya akan berakhir.

“Namun ternyata walaupun anak-anak ini mereka berada di Salatiga namun mereka tetap menunjukkan eksistensi dan jati diri mereka selaku anak-anak Port Numbay dimana hal ini juga ikut memperkaya khasanah budaya Indonesia,” cetusnya.

Meski demikian, Awi menilai ada yang kurang berkenaan di hatinya dari pembangunan asrama terkait tidak terlihatnya jati diri Port Numbay pada struktur bangunan dua lantai tersebut.

“Filosofi yang memberikan nilai spirit dan moral terhadap anak-anak Port Numbay yang dididik di Salatiga tak tampak terlihat. Padahal hal itu merupakan salah satu alat komunikasi yang mengomunikasikan kepada semua orang di Salatiga bahwa ini adalah Port Numbay sehingga nampak jelas bahwa ciri khas Bhinneka Tunggal Ika betul-betul nampak,” imbuhnya.

Karena jika Wali Kota Salatiga tidak menerima budaya Port Numbay maka itu bukan mencerminkan nilai-nilai Pancasila.

Lebih lanjut, Awi juga memperkenalkan kehidupan Pemerintah, adat dan gereja di Port Numbay dengan istilah tiga tungku yang berjalan secara sinergis sehingga pembangunan juga berjalan dengan baik.

Hal ini merupakan konsep dari seorang intelektual anak Port Numbay untuk bagaimana melibatkan semua komponen dalam proses pembangunan.

“Kami tidak boleh menjadi objek tapi bagaimana kita menjadi subyek dalam pembangunan ini sehingga tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara adat ada pada kami dan itu merupakan konsep DR. Benhur Tomi Mano,” tegasnya.

Kepada para mahasiswa, Awi juga mengingatkan bahwa mereka datang ke Salatiga untuk belajar dan menuntut ilmu serta membawa pulang apa yang diterimanya guna diterapkan di Papua.

“Orang Jawa, Makassar dan yang lainnya datang ke Papua bukan untuk menuntut ilmu tapi mereka datang untuk mencari uang dan setelah itu kembali ke kampung masing-masing. Namun anak-anak Papua khususnya anak-anak Port Numbay yang datang ke Salatiga bukan untuk membeli tanah namun mereka datang untuk belajar dan kembali untuk membangun daerah mereka,” bebernya.

Awi berharap, anak-anak yang kuliah di UKSW dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan baik selaku generasi penerus yang nantinya akan melanjutkan tongkat estafet dalam membangun Papua dan kota Jayapura pada khususnya.

“Kita semua berharap setelah kembali, ilmu dan kepintaran yang diperoleh tidak disimpan dan hanya menjadi pameran gelar di kertas tulis tapi bagaimana mengimplementasikannya,” harapnya

Pada kesempatan tersebut, selaku pimpinan LMA Port Numbay, Awi juga meminta Wali Kota Salatiga untuk bisa menjaga, melayani dan memperlakukan anak-anak Port Numbay sebagai warga negara Indonesia sebagaimana warga masyarakat lainnya.

(HAR)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga