Aksi Intimidasi Kebebasan Pers Kembali Terjadi di Papua

Aksi intimidasi terhadap kebebasan pers kembali terjadi di Papua tepatnya di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Share it:
Ilustrasi penolakan atas aksi kekerasan kepada pers
Wamena, Dharapos.com
Aksi intimidasi terhadap kebebasan pers kembali terjadi di Papua tepatnya di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Kali ini,  tiga wartawan televisi asal Metro TV, Jaya TV, dan TVRI mendapat intimidasi saat meliput sidang lanjutan terkait perkara Pilkada Kabupaten Tolikara dengan tersangka 5 komisioner KPUD Tolikara di Pengadilan Negeri Wamena, Jumat (28/4) pada pukul 10.45 WIT.

Koordinator Advokasi AJI Jayapura, Fabio Maria Lopes Costa dalam rilisnya kepada media ini membenarkan adanya aksi intimidasi dalam kegiatan peliputan yang dialami ketiga jurnalis TV tersebut.

Menurut informasi yang diterima Costa, jurnalis Metro TV, Ricardo Hutahean bersama kedua rekannya awalnya diintimidasi setelah mengambil gambar dalam persidangan.

Ketua Majelis Hakim dalam persidangan tersebut sempat menanyakan kehadiran mereka sebelum persidangan dimulai.

"Setelah memberikan penjelasan dan menunjukkan kartu pers, akhirnya kami diperbolehkan mengambil gambar," tutur Ricardo ditirukan Costa.

Namun seusai mengambil gambar, saat ketiganya berkumpul di salah satu ruangan di PN Wamena, tiba-tiba sekitar 20 oknum warga mendatangi mereka di ruangan tersebut.

Mereka menginterogasi ketiganya dan menanyakan maksud pengambilan gambar dalam sidang kasus Pilkada di Tolikara.

Bahkan ada salah satu oknum warga dalam kondisi dipengaruhi minuman beralkohol.

Mereka pun mengancam bahkan mengeluarkan kata makian kepada Ricardo dan kedua rekan wartawan untuk menghapus video hasil liputannya.

“Kami pun berupaya menjelaskan tentang fungsi  pers yang akan memberikan informasi yang berimbang bagi publik. Tapi mereka tetap tidak menerima penjelasan dan hendak memukul kami,” kembali beber Ricardo.

Demi keamanan, ketiganya terpaksa menghapus video hasil liputannya.

Bahkan sebelum meninggalkan ruangan tersebut, puluhan oknum warga tersebut masih sempat mengancam akan mencari ketiga wartawan itu apabila hasil liputannya dipublikasikan.

"Kami sangat menyesalkan karena tidak ada anggota polisi yang berseragam dalam persidangan tersebut.
Padahal kami telah berkomunikasi dengan Kapolres Jayawijaya sebelum persidangan untuk meminta pengamanan," sesal Costa.

Terkait aksi intimidasi tersebut, AJI Kota Jayapura menyesalkan terjadinya aksi intimidasi yang di alami ketiga rekannya.

AJI menilai bahwa hingga saat ini masih belum ada jaminan keamanan bagi awak media khususnya dalam peliputan kasus-kasus yang sensitif di lembaga Pengadilan Negeri.

Seperti yang terjadi sebelumnya,  pada 21 November 2016 lalu, juga terjadi kasus pemukulan atas stringer Metro TV Maikel Marey oleh salah satu oknum anggota DRPD Paniai.

Atas fakta ini, AJI Jayapura menyerukan agar pimpinan Pengadilan Tinggi Papua segera mengeluarkan instruksi bagi seluruh pimpinan PN di Papua agar memberikan kebebasan bagi awak media untuk meliput segala kasus dalam persidangan.

“Kami pun meminta agar pimpinan Polda Papua juga memberikan arahan bagi seluruh pimpinan Polres untuk memberikan perlindungan bagi awak media yang bertugas di persidangan,” desak Costa.

Karena tugas wartawan hanya memberikan informasi bagi publik dan tak memiliki kepentingan apapun.

“Semuanya itu untuk memberi masukan bagi Forkompimda untuk mengeluarkan kebijakan atau program demi terciptanya bonum commune atau kesejahteraan bersama,” tegasnya.

(Piet)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga