MKKS SMA se Kota Jayapura Gelar Workshop Pengembangan Instrumen K13

Musyawarah Kerja Kepala-kepala Sekolah (MKKS) SMA se Kota Jayapura melaksanakan Workshop Pengembangan Instrumen Penilaian Hasil Belajar Kurikulum 2013 (K13) untuk jenjang SD, SMP, SMA dan SMK dalam rangka Hari Pendidikan Nasional Tahun 2017.
Share it:
Pembukaan Woorkshop yang diitandai dengan penabuhan tifa bersama 
Jayapura, Dharapos.com 
Pemerintah kota melalui Musyawarah Kerja Kepala-kepala Sekolah (MKKS) SMA se Kota Jayapura melaksanakan Workshop Pengembangan Instrumen Penilaian Hasil Belajar Kurikulum 2013 (K13) untuk jenjang SD, SMP, SMA dan SMK dalam rangka Hari Pendidikan Nasional Tahun 2017.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura I Wayan Mudiyasa, S.Pd, M.MPd yang ditandai dengan penabuhan tifa bertempat di aula SMA YPPK Taruna Dharma, Kotaraja, Selasa (18/4).

Worksop tersebut menghadirkan narasumber dari Direktorat Pembinaan SMA (PSMA) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr. I Wayan Widana  dengan  jumlah peserta 216 orang Kepsek dan Wakasek Kurikulum.

Kadis dalam sambutannya mengatakan kegiatan workshop tersebut adalah untuk menyamakan persepsi Kurikulum 2013 dengan sistem  Kurikulum 2006 yang masih banyak dianut para guru.

“Untuk itu kita mendatangkan pemateri dari Direktorat PSMA yang sangat menguasai materi dengan tujuan untuk menyamakan persepsi guru-guru se Kota Jayapura agar image akan kurikulum 2006 bisa dihilangkan dan kemudian beralih mencintai Kurikulum 2013,” harapnya.

Pelaksanaan workshop ini juga akan menyisir dari sisi penilaian karena yang sangat sulit di K13 yaitu dari sistem penilaian.

Sistem penilaian K13 dilakukan secara autentik, yaitu penilaian secara terintegrasi atau keseluruhan.

“Mulai dari pendahuluan, sampai hasil dari anak-anak akan masuk dalam penilaian yang mana tidak hanya penilaian secara akademis saja,tapi juga pada saat praktek skill sehingga ada sikap, akademis, dan psikometriknya. Tiga bagian penilaian ini secara keseluruhan disatukan  menjadi penilaian autentik,” lanjut Kadis.

Diakui, sebelumnya K13 tidak melakukan penilaian sikap, tetapi mulai sekarang antara anak yang satu dengan anak-anak yang lain penilaiannya jelas.

“Artinya ada anak-anak yang menguasai di salah satu bidang tapi di bidang lain tidak, sehingga perlu kita hargai itu. Sehingga penilaian otentik itu sangat penting dilakukan pada hari pertama pelaksanaan workshop,” tandasnya.

Peserta Workshop
Dikatakan juga, baik dari pembuatan kisi-kisi, perakitan soal sampai dengan penilaian berbasis elektronik, Kota Jayapura maju selangkah dari kabupaten lain di Papua.

“Untuk penilaan berbasis elektronik, hari ini mulai dikembangkan, karena ada sekitar 200 guru di Kota Jayapura yang harus bisa menguasai penilaian Kurikulum 2013,” cetusnya.

Di saat yang sama, Kepala Cabang Penerbit Masmedia Buana Pustaka Papua dan Papua Barat, Lasdo Sitohang, S.Pd juga menambahkan, keikutsertaan pihaknya di kegiatan ini dilatarbelakangi keberadaan program CSR di perusahaan miliknya.

“Dimana Masmedia berperan sebagai stakeholder atau pemangku kepentingan untuk memajukan dunia pendidikan di Papua khususnya di Kota Jayapura,” tambahnya.

Lembaga ini, lanjut Sitohang, tentu mempunyai tanggung jawab untuk menyejajarkan  kualitas pendidikan di Papua dengan daerah lain di luar Papua.

Dan, saat ini tantangan yang berat bagi dunia pendidikan di Indonesia adalah terkait kesiapan para guru untuk menerapkan tuntutan K13.

“Karena yang kami pahami selaku mitra yang bergerak di bidang perbukuan diketahui bahwa, tuntutan K13 ke depan dan tantangannya cukup besar karena semua menggunakan sistem elektronik,” terangnya.

Menurut Sitohang, K13 dalam konteks saat ini yang menjadi kendala saat bermitra dengan para guru adalah mereka diperhadapkan kesulitan terkait model pengembangan soal sesuai dengan K13.

“Olehnya itu, Masmedia mempunyai rasa tanggung jawab untuk memberikan bekal sehingga para guru juga memiliki standar yang sama dalam menyusun butir-butir soal sesuai K13 agar soal-soal yang mereka siapkan ke siswa bukan sembarangan,” tandasnya.

Dalam hal ini, soal harus mempunyai standar sehingga pada saat menyusunnya guru tidak salah menguji sehingga benar-benar terukur apa yang akan diujikan kepada siswa dan sejauh mana siswa memahami
pelajaran yang telah mereka ikuti selama ini.

Intinya, untuk pembuatan soal K13 harus berpikir dengan kapasitas tinggi.

“Kami berharap dunia pendidikan di Kota Jayapura bisa sejajar dengan sekokah lain di luar Papua,” tukas Sitohang.

(HAR)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Kota Jayapura

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga