Tim BTKL Temukan Penderita Kusta di Argapura Pantai

Balai Teknik kesehatan Lingkungan (BTKL) Ambon yang membawahi wilayah Maluku, Papua dan Papua Barat kembali mendatangi sejumlah tempat di Kota Jayapura, dalam rangka mengimplementasikan program Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P).
Share it:
Tim BTKL saat berada di Argapura Pantai
Jayapura, Dharapos.com 
Balai Teknik kesehatan Lingkungan (BTKL) Ambon yang membawahi wilayah Maluku, Papua dan Papua Barat kembali mendatangi sejumlah tempat di Kota Jayapura, dalam rangka mengimplementasikan program Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P).

Sasaran tim berkekuatan 3 personil yang di pimpin oleh Zusana Lena Tulak, SKM, M.Kes ini adalah mendeteksi dua penyakit yang terabaikan yakni frambusia dan kusta.

Memastikan itu, Rabu (19/4) tim BTKL menyisir wilayah Argapura Pipa, Argapura Seledri, Weref Pantai dan sebagaian wilayah Hamadi Gunung dan berhasil  menemukan masalah yang di derita oleh warga.
Khusus di Argapura Pantai, ada warga yang terinfeksi penyakit kusta.

Penyakit kusta bila tidak dideteksi dan diobati secara dini berakibat cacat bahkan berdampak pada, penderitanya dijauhi dan dikucilkan sehingga sulit mendapatkan pekerjaan.

“Karena itu, rehabilitasi penderita dan mantan penderita kusta sangat penting,” cetus Zusana.

Adapun rehabilitasi yang dibutuhkan adalah rehabilitasi secara komprehensif, yang meliputi fisik, sosial dan ekonomi.

Dengan rehabilitasi itu diharapkan, orang yang pernah mengalami kusta dapat memperoleh hak dan kesempatan yang sama untuk bekerja dan hidup dalam lingkungan sosial secara mandiri dan bermartabat.

Diakuinya pula, penyakit terabaikan lainnya yakni frambusia juga masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia,termasuk Maluku dan Papua dan papua barat.

“Tentu dengan faktor-faktor yang menjadi risiko berkembang biak penyakit ini seperti kebersihan lingkungan, kurang tersedianya air bersih yang turut mempengaruhi perilaku hidup bersih dan sehat di tengah masyarakat setempat,” akui Zusana.

Dirincikan, target nasional untuk 2 penyakit ini  yakni eliminasi Kusta pada tahun 2019 artinya angka prevalensi kusta harus di bawah 1 per 10.000 penduduk.

“Selain itu juga penyakit eradikasi Frambusia pada tahun 2020, artinya pemusnahan penyakit hingga tak ditemukan lagi,” rincinya.

Dimana tingginya jumlah kasus tersebut menunjukkan, penularan masih terus berlangsung.

“Penyebabnya karena penderita frambusia banyak tinggal di daerah pedalaman yang keadaan lingkungannya kurang mendukung dan sulit dijangkau pelayanan kesehatan. Padahal, cara pengendaliannya sangat sederhana yaitu dengan satu kali penyuntikan benzatin penicillin penderitanya dapat disembuhkan,” terang Zusana.

Untuk mencapai target nasional ini, tegas dia, tentu sangat memerlukan dukungan dari Pemerintah daerah
dalam bentuk pendanaan berbagai kegiatan seperti harus melakukan survei/penemuan sedini mungkin, pengobatan, hingga evaluasi usai pengobatan.

Untuk diketahui, kusta dan frambusia pada awalnya terlihat seperti penyakit kulit biasa, hingga masyarakat sering mengabaikan dan tidak melakukan pengobatan  ke Puskesmas.

Akibat pembiaran ini tentu berakibat sangat merugikan, karena dalam perkembangan selanjutnya penyakit ini menyebabkan cacat.

“Jika sudah cacat, keluarga bahkan Pemerintah daerah pun akan sangat rugi, karena penderita akan menjadi tidak atau kurang produktif. Karena dari sisi penghasilan yang  bisa menghasilkan 1 juta perbulan , semua akan sirna karena cacat, belum lagi jika penderita dikucilkan masyarakat,” lanjutnya.

Pihak Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan sangat memerlukan dukungan dana untuk dapat selalu turun ke masyarakat dalam rangka mengedukasi pentingnya berobat sedini mungkin serta pentingnya hidup bersih dan sehat.

“Meski begitu masyarakat masih keras kepala dan suka menyangkal apalagi jika dikatakan sakit kusta mereka bahkan tidak mau menerima. Bahkan jika berobat juga  tidak rutin  walau sudah 1 bulan, mereka
tidak  lanjut berobat lagi,” bebernya

Ditambahkan, untuk pengobatannya membutuhkan waktu 6 bulan untuk tipe PB dan 12 bln untuk tipe MB.

(HAR)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Kota Jayapura

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga