Hadapi Era Globalisasi, SMA Kalam Kudus Jayapura Terapkan Program “Live In”

Menghadapi era globalisasi yang nyaris tiada batas antar negara, Kota Jayapura sebagai kota perdagangan dan jasa bakal menghadapi persaingan di berbagai bidang, terutama ekonomi.
Share it:
Kepala SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura, Drs. Jerry Langi, MBA
Jayapura, Dharapos.com
Menghadapi era globalisasi yang nyaris tiada batas antar negara, Kota Jayapura sebagai kota perdagangan dan jasa bakal menghadapi persaingan di berbagai bidang, terutama ekonomi.

Salah satu komponen yang bakal menghadapi fakta ini adalah peserta didik di tingkat SMA.

Dan untuk dapat bertahan hidup dan bersaing di lingkungan kota yang dihuni oleh seluruh masyarakat nusantara maka mereka perlu dibekali dengan jiwa, semangat, dan keterampilan berwirausaha.

Kepala SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura, Drs. Jerry Langi, MBA mengungkapkan salah satu pilihan yang tepat mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi era globalisasi adalah dengan memantapkan pengetahuan akan kewirausahaan yang dikembangkan sebagai muatan lokal.

“Pengembangan kemampuan dan keterampilan berwirausaha, bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup. Tentu yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi dasar untuk bertahan hidup, serta mampu menyesuaikan diri agar berhasil dalam kehidupan bermasyarakat,” urainya.

Mengantisipasi itu, SMA Kalam Kudus kemudian menerapkan program “Live In”.

Wakasek Kurikulum, Juwita Roboth mengungkapkan tahun ini pihaknya mulai memprogramkan pelajaran Muatan lokal (Mulok) Kewirausahaan (Entrepreneurship) bagi siswa siswi kelas X, XI dan XII yang didalamnya program “Live In”.

Dua siswa saat berkesempatan melakukan panen buah jeruk 
“Program ini tentu untuk menciptakan nilai tambah dengan jalan mengoordinasikan sumber-sumber melalui 
cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Tentu dengan Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda untuk bagaimana memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha,” terangnya.

Kegiatan kewirausahaan ini juga untuk memenuhi tuntutan kurikulum pada mata pelajaran Mulok.

“Tahun ini kami lebih mengarahkan anak-anak pada kegiatan yang kontekstual dan bukan lagi teori atau simulasi di sekolah namun kami mengenalkan anak-anak untuk langsung bersentuhan dengan kegiatan kerja di lapangan,” urai Juwita.

Kegiatan ini lebih praktis agar mereka bisa merasakan nilai-nilai tertentu pada saat terjun di dunia usaha dan bagaimana mengelola serta saat mengalami masalah dan hal-hal yang praktis yang tentu belum ditemukan di kelas.

“Kami berharap setelah kegiatan ini maka anak-anak bisa melihat kehidupan riil di lapangan atau di masyarakat yang diharapkan bisa membawa satu pengalaman yang baik agar anak-anak ini bisa melihat bagaimana hasilnya,” harapnya.

Sambung Juwita, mereka harus dilatih sejak dini untuk berwirausaha karena setelah kelulusannya, tidak semua harus menjadi pegawai.

Sejumlah pelajar putri ikut terjun melakukan panen jagung 
“Namun setidaknya mereka diberi peluang belajar apa yang bisa diambil untuk mengisi dan mempertahankan kemampuan sesuai dengan talenta yang dimiliki tentu dengan cara ini mereka melibatkan diri dalam dunia usaha secara kontekstual,” sambungnya.

Lanjutnya, program “Live In” ini sudah dilaksanakan oleh kelas XII, pada Januari lalu di Arso, Kabupaten Keerom dan berlangsung selama satu minggu, dimana mereka langsung ditempatkan di rumah-rumah penduduk sesuai dengan kehidupan masyarakat.

Mereka yang ditempatkan diharapkan bisa berbaur dengan masyarakat dan menyesuaikan diri dengan cara hidup masyarakat yang ada

“Kalau anak-anak bersama dengan masyarakat yang kerja sebagai petani maka dia harus mengikuti pola 
hidup sebagai seorang petani di mana dia tinggal,” kembali sambung dia.

Selain itu, mereka juga harus menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat dan tidak boleh membawa kehidupan mereka saat ini.

Begitu juga jika kehidupan masyarakat sebagai peternak maka mereka harus siap menjadi peternak kalau mereka menempati rumah yang kebetulan sebagai seorang  pedagang maka anak tersebut juga harus ikut melakukan aktivitas sebagai pedagang

“Live In” ini bertujuan untuk membawa anak-anak menjalani kehidupan nyata dengan segala kesulitan yang harus mereka lakoni di sana,” urai Juwita.

Bersama-sama warga melaksanakan panen sawi
Selain program “Live In” di Arso, pelayanan juga menjadi bagian penting dari SMA Kalam Kudus karena identik sebagai sekolah agama Kristen dengan melaksanakan “Live In” pada sejumlah SMP yang ada di kota Jayapura.

“Anak-anak ini kami latih untuk bagaimana melayani orang lain dengan  melakukan kunjungan ke beberapa SMP dan respon mereka sangat baik . Hal ini tentunya untuk melatih anak kita bisa berinteraksi melayani dengan orang lain,” bebernya.

Diakuinya, program yang sangat baik ini mendapat respons positif dari Pemerintah Kota dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura dengan mendasari bahwa segala sesuatu yang baik dengan tujuan membangun manusia Indonesia seutuhnya tentu bukan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan.

Ditambahkan, untuk program kewirausahaan, sebelumnya telah dilakukan khusus di lingkungan SMA Kalam Kudus.

“Kami mengajarkan mereka untuk melakukan usaha baik dengan teori maupun sosialisasi seperti membuat bazar dan mulai tahun ini kami lebih membawa mereka ke dunia sebenarnya untuk menjawab tantangan MEA yang ada,” tandas Juwita.

Mereka juga akan dilatih untuk belajar mandiri.

“Mungkin anak-anak ini dalam kehidupan di rumah hanya mengandalkan pembantu melayani mereka, namun dengan diberikan kehidupan yang nyata seperti ini membuat mereka bisa belajar untuk lakukan sendiri tanpa harus memakai pembantu,” tukasnya.


(Har)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Pendidikan

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga