Dantonkes - Dokter Satgas 432/WSJ Dibekali Penanganan Malaria

Kantor Kesehatan Kodam (Kesdam) XVII/Cenderawasih menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) penanganan terhadap personil Satuan Tugas (Satgas) yang terkena penyakit malaria bagi seluruh Dantonkes dan Dokter yang tergabung dalam jajaran Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) wilayah RI - PNG yang berada di wilayah Jayapura.
Share it:
Rakor penanganan terhadap personil Satgas yang terkena penyakit malaria bagi seluruh Dantonkes
dan Dokter yang tergabung dalam jajaran Satgas Pamtas wilayah RI - PNG
Jayapura, Dharapos.com  
Kantor Kesehatan Kodam (Kesdam) XVII/Cenderawasih menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) penanganan terhadap personil Satuan Tugas (Satgas) yang terkena penyakit malaria bagi seluruh Dantonkes dan Dokter yang tergabung dalam jajaran Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) wilayah RI - PNG yang berada di wilayah Jayapura.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diarahkan untuk selain memahami proses penanganan kesehatan di pos-pos terdepan.

Juga dibekali dengan materi lain, termasuk proses evakuasi prajurit yang sakit ke rumah sakit milik Pemerintah daerah setempat maupun milik TNI.

Kakesdam, Kolonel CKM dr. Iwan dalam keterangannya memberikan penekanan kepada
Dantonkes dan Dokter Satgas Pamtas se wilayah RI - PNG agar sedapat mungkin bisa menghindari malaria dan melakukan evakuasi secepatnya terhadap  anggota TNI yang terkena penyakit malaria melalui alur komando, yakni  ke RS Marten Indey.

Dan apabila tidak terjangkau secepatnya, maka bisa dievakuasi menggunakan fasilitas kesehatan terdekat.

“Untuk penanganan awal, dapat menggunakan puskesmas atau RS pemerintah namun apabila memungkinkan diutamakan jalur evakuasi adalah dibawa ke RS tingkat II, Marten Indey di Jayapura,” urainya.

Selain tindakan penyelamatan berupa perawatan di RS, para peserta rakor juga diingatkan untuk lebih memantapkan upaya penanganan pertama kepada prajurit yang sakit malaria.

Hal ini dilakukan oleh karena sesuai pengamatan Kakesdam, penanganan terhadap penderita malaria selama ini dinilai belum maksimal, bahkan jumlah kasusnya terbilang cukup tinggi ketimbang yang terjadi di daerah lain.

Harapannya bahwa kasus-kasus yang sudah berlalu, dimana hampir setiap tahun ada yang meninggal dunia itu tidak akan terulang lagi.

“Hal ini mesti menjadi penekanan bagi Dantonkes dan Dokter Satgas Pamtas untuk memberikan pemahaman kepada personel Satgas di jajarannya” ungkap dokter spesialis  penyakit dalam RS Marten Indey,  Mayor CKM. Joko Setiono dalam kesempatan itu.

Sementara itu, Dantonkes Lettu. CKM. Aras dan Dokter Letda. CKM. Aikardi dari bagian kesehatan Yonif Para Raider 432/WSJ mengakui bahwa kegiatan tersebut dipandang penting, sehingga diharapkan ke depan nanti akan menjadi pedoman untuk penanganan awal bagi prajurit di lapangan.

Mereka mengakui pula bahwa satu-satunya cara untuk mencegah malaria adalah prajurit diharapkan untuk menghindari perilaku hidup kotor sehingga terbebas dari gigitan nyamuk malaria.

Sebab penyebaran penularan penyakit malaria adalah bermula dari gigitan nyamuk pada penderita malaria dan  ditularkan melalui nyamuk anopeles betina kepada orang yang sehat, sehingga dipastikan akan terkena malaria apabila kondisi kesehatan menurun atau daya tahan tubuh menurun.

Selain itu, diperlukan pola hidup yang sehat dengan pola hidup yang bersih.

Untuk menghindarinya dengan cara selalu berupaya menggunakan pakaian yang lengkap dalam kesehariannya dan juga saat tidur harus menggunakan kelambu.

Bagi mereka, kegiatan tersebut dipandang penting karena selain terdapat evaluasi, tim dokes di perbatasan juga dituntut untuk lebih meningkatkan pelayanannya, sehingga prajurit selalu sehat dan terbebas dari penyakit malaria saat mengabdi di kawasan tersebut.

(Piet)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments: