Ikemal di Tanah Papua Apresiasi Kehadiran Organisasi PPMP

Pemuda Paparisa Maluku di tanah Papua (PPMP) bersama pemuda/i Maluku yang tergabung dalam Satu Darah dan Maluku Bersatu (Mabes) menggelar rapat bertempat di Restoran OK, kawasan Ruko Dok II Kota Jayapura, Kamis (29/6).
Share it:
Sekum Ikemal Pusat, Rasmus D. Siahaya, SH, MM (kedua dari kiri) saat menyampaikan pernyataan
Jayapura, Dharapos.com  
Pemuda Paparisa Maluku di tanah Papua (PPMP) bersama pemuda/i Maluku yang tergabung dalam Satu Darah dan Maluku Bersatu (Mabes) menggelar rapat bertempat di Restoran OK, kawasan Ruko Dok II Kota Jayapura, Kamis (29/6).

Turut hadir, Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Maluku (Ikemal) di Tanah Papua, Rasmus D. Siahaya, SH, MM mewakili Ketua, Drs. Elia I. Loupatty, MM.

Kehadiran Ikemal ini sebagai bentuk apresiasi dan dukungan penuh atas kehadiran PPMP yang diharapkan berkontribusi bagi daerah.

Pertemuan di pimpin oleh Ketua Umum PPMP, Fransisco Hitijahubessy di dampingi Wakil Ketua, Dedi Patiwael dan Sekretaris, Richard Tatuhey.

Juga hadir Ketua Satu Darah, Rinto Sapulete bersama salah satu anggota komunitas Mabes Francezka Lesnussa, serta anggota Satu Darah dan pengurus pusat PPMP.

Ketua Ikemal di Tanah Papua dalam arahan yang disampaikan oleh Sekum Rasmus D. Siahaya, SH, MM mengakui bahwa pertemuan hari ini merupakan rapat sulung PPMP untuk berbicara mengenai identitas sebagai anak-anak Maluku di Tanah Papua.

“Saya berterima kasih kepada pemuda/i Maluku yang menggagas dan mempunyai inisiatif untuk membentuk organisasi kemasyarakatan PPMP yang  bersifat kolektif dan kolegial,” ucapnya.

Itu artinya, lanjut Siahaya, ada  kesadaran sebagai anak Maluku yang didorong oleh keinginan untuk mewujudkan kontribusi kehadirannya di tengah-tengah kehidupan bersama.

“Atas dasar itu maka kita hendak menyatakan bahwa sebagai anak-anak muda Maluku kita harus bersatu demi memaksimalkan kompetensi, potensi dan kemampuan yang dimiliki. Dan jika disatukan maka akan menjadi satu kekuatan yang sanggat dahsyat,” tandasnya.

Siahaya mengakui, ada gelombang anak-anak muda yang dinilai bentuknya parsial atau berkelompok-kelompok.

“Olehnya itu hal parsial ini harus disatukan,” lanjutnya.

Untuk itu, sebagai orang tua yang melihat kekuatan anak muda yang parsial, maka kemudian gabungkan menjadi satu kekuatan untuk dimanfaatkan demi kemaslahatan banyak orang.

“Kehadiran anak-anak Maluku bukan untuk dirinya sendiri tapi kehadirannya adalah untuk kepentingan banyak orang,” cetus Siahaya.

Hal tersebut didasarkan karena orang tua-tua di zaman dahulu bukan tidak melihat dirinya namun terdorong oleh kesadaran dan tanggung jawab untuk hadir menyapa bersama anak-anak di Tanah Papua agar mau maju bersama-sama membangun sebuah kehidupan di hari esok yang lebih baik dari hari kemarin.

Para orang tua Maluku yang datang di tanah Papua, tidak bersenang-senang di jalan-jalan atau tidak juga ke pasar-pasar bahkan tidak juga di tempat keramaian yang hanya memberikan kesenangan bagi dirinya sendiri.

“Namun kedatangan orang tua- tua kita langsung menemui anak-anak Papua di rumahnya baik itu di gunung, di lembah hingga ke pedalaman bahkan di tempat-tempat terpencil. Dan fakta membuktikan bahwa sampai saat ini buah karya kehadiran orang tua-tua kita dari Maluku, sudah memberikan hasil sehingga anak-anak Papua boleh berkiprah, memimpin dan menjadi tuan di negerinya sendiri,” tandas Siahaya.

Untuk itu, selaku generasi penerus harus bisa meneruskan nilai-nilai luhur yang telah diletakkan oleh orang tua-tua dulu.

Anak muda Maluku harus bisa menata diri sehingga semua pikiran, ucapan dan semua tindakan kita tidak menodai nilai-nilai luhur yang sudah diletakkan sejak dulu.

“Dengan demikian, generasi muda Maluku bisa hadir untuk meneruskan, melestarikan bahkan meningkatkan apa yang sudah diletakkan oleh para orang tua kita yaitu dengan mempunyai keyakinan dan kesadaran melalui organisasi. Kita tidak boleh melakukan suatu kegiatan tanpa sebuah organisasi,” sambungnya.

Diakui Siahaya, bahwa sesuai dengan peraturan perundang-undangan organisasi kemasyarakatan, maka ada persyaratan dan kriteria yang harus dipenuhi.

Kemudian, yang harus juga dilakukan adalah penyatuan persepsi anak-anak muda Maluku diantara Satu Darah, Mabes maupun organisasi lain.

“Karena itu, anak muda Maluku harus berada di bawah payung hukum yang jelas dan kuat sehingga apa yang akan kita laksanakan dapat dipertanggungjawabkan,” akuinya.

Pada momen tersebut, Siahaya sampaikan ucapan terima kasih karena PPMP, Satu Darah dan Mabes dapat duduk bersama untuk menyatukan persepsi dan memiliki komitmen bersama.

“Meski demikian, kita juga harus terinspirasi dari hakikat nilai-nilai luhur yang telah diletakkan oleh orang tua kita yaitu Gandong, Ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging. Filosofi ini hanya ada dan melekat pada orang Maluku dan tidak ada pada suku lain di negara ini,” ucapnya.

Siahaya mengingatkan soal prinsip 3K yaitu koordinasi, komunikasi dan komitmen yang harus di maknai pada satu organisasi.

“Jangan menilai karena ada sesuatu yang baru dibentuk tetapi organisasi ini dibentuk karena terpanggil untuk mau bersatu sebagai anak-anak muda Maluku guna meneruskan melestarikan nilai-nilai luhur yang sudah diletakkan orang tua kita di tanah Papua,”

Siahaya juga mengingatkan anak-anak Maluku untuk tidak merampas hak kesulungan anak-anak Papua.

Di tempat yang sama Wakil Ketua Umum PPMP, Dedi Pattiwael, S.IAN  turut menyampaikan pandangan awal terbentukya organisasi tersebut.

“Organisasi  PPMP terbentuk atas gagasan dari beberapa pemuda Maluku,” ungkapnya.
Wadah ini, lanjut Pattiwael, bertujuan untuk mempersatukan anak-anak Muda Muluku di tanah Papua, khususnya di Kota Jayapura.

“Sebagai  organisasi tentu kita membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar kita tidak hanya pada tatanan konsolidasi tapi juga berbicara soal capaian visi bersama PPMP, yang tentu akan memberikan manfaat bagi banyak orang,” tukasnya.

(Har)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga