Umat Muslim Diingatkan Tak Boleh Sombong dan Serakah

Umat Muslim di Kota Jayapura diingatkan tidak boleh sombong dan serakah.
Share it:
Ustadz , Dr. H. Das'ad Latif, S.Sos, S.Ag, M.Si 
Jayapura, Dharapos.com 
Umat Muslim di Kota Jayapura diingatkan tidak boleh sombong dan serakah.

Demikian disampaikan Ustadz , Dr. H. Das'ad Latif, S.Sos, S.Ag, M.Si saat memberikan ceramah kepada ribuan umat yang hadir pada acara Halal bi Halal bersama Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI - POLRI, DPRD dan masyarakat se Kota Jayapura.

Acara yang digelar dalam rangka mempererat tali silaturahmi ini, bertempat di Gedung Olahraga Waringin, kawasan Kotaraja, Kota Jayapura, Sabtu (15/7).

“Ada banyak hal yang sering kali menjadi penyebab orang sombong seperti pangkat dan jabatan,” ungkapnya.

Padahal, pangkat dan jabatan, cerdas dan hebat semuanya akan hilang  karena pensiun.

“Dengan begitu jangan sombong karena Allah akan mencabut ilmu kita. Yang juga membuat kita sombong karena memiliki  wajah yang cakap atau cantik dan saya mau ingatkan sekali lagi jangan sombong dengan hal-hal itu,” imbuh Ustadz Latif.

Faktor lainnya yang membuat manusia sombong juga karena memiliki harta kekayaan yang berlimpah.

“Namun jika kita tidak juga menyadarinya bahwa semua adalah berkah dari Allah maka pasti akan dicabut dengan cara Allah kasih kita penyakit. Karena itu, kita jangan sombong karena punya jabatan karena nanti bukan saja kita yang sial tapi anak kita juga akan mendapat sialnya,” bebernya.

Ustadz Latif juga turut menegaskan bahwa penyebab putusnya hubungan tali persaudaraan diantara sesama manusia akibat keserakahan.

Dirinya mencontohkan di Indonesia, mulai dari panitia lelang proyek, pengawas lelang hingga pemenang tender semuanya ingin diambil satu orang sehingga hal ini tentu memicu putusnya hubungan tali persaudaraan.

“Padahal jika negara Indonesia dihuni oleh orang-orang yang mensyukuri apa yang diberikan-Nya maka polisi dan KPK tidak akan bekerja keras seperti ini karena tidak ada orang yang akan mengambil hak orang lain,” cetus Ustadz Latif.

Dan salah satu hukuman pidana yang terjadi di Indonesia disebabkan karena mengambil hak orang lain.

Ustadz Latif juga menyoroti adanya media sosial yang belakangan ini mulai memberikan dampak buruk bagi manusia atau dengan kata lain untuk bergosip saat ini lebih gampang dan lebih berbahaya.

“Makanya orang yang berpuasa tapi masih gosip tentang orang lain maka tentu tidak ada gunanya berpuasa. Karena mestinya Islam yang baik, Majelis Taklim yang baik bahwa manfaat puasa jika mendengar gosip maka tentu kita harus berlindung kepada Allah dari keburukan seperti itu,” sambungnya.

Ustadz Latif juga serius menyoroti ibu-ibu yang sering bergosip termasuk laki-laki yakni gosip isu-isu politik yang berisi memfitnah orang lain hingga berujung pada pembunuhan karakter.

“Orang Islam harus melakukan tiga hal yaitu mengecek benar atau tidak berita. Kalaupun benar apa manfaatnya jika saya sebar dan bagus tidak untuk kebutuhan bersama. Namun jika tidak dilakukan maka kita bisa menyebar berita yang bisa menghancurkan diri kita dan orang lain,” tegasnya.

Olehnya itu, dalam menyampaikan informasi hendaknya berhati-hati.

“Karena jika tidak, maka akan merusak persatuan kita sebab setiap ucapan yang tidak dipertimbangkan positif dan negatifnya maka bisa memicu putusnya tali persaudaraan diantara kita,” kembali tegasnya.

Dengan demikian, barang siapa yang berpuasa di bulan suci Ramadhan dengan niat iman dan ikhlas maka dosanya diampuni baik yang lalu maupun yang akan datang..

“Akhir Ramadhan memasuki satu Syawal, kita rayakan dengan ber Idul Fitri sebagai hari raya kemenangan yang salah satu artinya adalah hari suci dari dosa dan kesalahan,”  rinci Ustadz Latif.

Lanjutnya, satu Syawal dirayakan sebagai kemenangan umat Muslim disucikan dari dosa dan kesalahan.

“Artinya dosa yang diampuni Allah di bulan Ramadhan adalah,dosa yang sifatnya berhubungan kepada Allah sementara dosa kedua adalah dosa kepada orang lain,” tandasnya.

Ditambahkan Ustadz Latif, Halal bi Halal hanya ada di Indonesia dan tidak ada di negara lain bahkan di Timur Tengah sekalipun. Halal bi Halal, kata dia, artinya baku bae.

“Itu artinya tidak ada gunanya jika kita melaksanakan Halal bi Halal kalau kita masih bermusuhan karena inti terpenting dari momen tersebut adalah persaudaraan. Bahkan kita sering menceritakan kejelekan orang lain sementara kejelekan diri sendiri dilupakan,” tukasnya.

Acara yang merupakan program tahunan pengurus pengajian Ulil Albab Pemkot Jayapura ini selain Wali Kota  DR. Benhur Tomi Mano, MM dan Wakil Wali Kota Ir. H. Rustan Saru, MM juga turut hadir Kapolda Papua Irjen. Pol. Drs. Boy Rafli Amar.

Selanjutnya, Ketua FKUB Kota Jayapura, Pdt. Wellem F. L. Itaar, STh, MH yang juga ketua Klasis GKI Jayapura, Kapolres setempat AKBP. Marison Tober Sirait, SIK, Kasat Brimob Polda Papua, Kombes Pol. Mathius D. Fakhiri, SIK, Kemenag Kota Jayapura, pimpinan OPD di lingkup Pemkot, anggota DPRD kota serta ribuan umat Muslim se Kota Jayapura

(Har)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Kota Jayapura

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga