500 Masyarakat Flobamora Turut Meriahkan Festival Teluk Humbold 2017

Festival Teluk Humbold Tahun 2017 hari ke tiga menjadi sangat spesial, karena turut di meriahkan 500 anggota Keluarga Besar Flores, Sumba, Rumor, Alor (Flobamora) asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk Pulau Rote dan Sabu, dengan berbagai tarian adat istiadat mereka.
Share it:
500 masyarakat Flobamora saat menampilkan tarian adat Lamaholot dalam Festival Teluk Humbold 2017 
Jayapura, Dharapos.com 
Festival Teluk Humbold Tahun 2017 hari ke tiga menjadi sangat spesial, karena turut di meriahkan 500 anggota Keluarga Besar Flores, Sumba, Rumor, Alor (Flobamora) asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk Pulau Rote dan Sabu, dengan berbagai tarian adat istiadat mereka.

Turut hadir untuk menyaksikan acara tersebut Wali Kota DR. Benhur Tomi Mano, MM,  Sekretaris Daerah Provinsi Papua, TEA. Hary Dosinaen, S.IP, MKP dan Sekda Kota Jayapura, Rasmus D. Siahaya, SH, MM didampingi ketua panitia kegiatan.

Turut hadir tamu dari mancanegara serta ribuan masyarakat  dari berbagai penjuru Kota Jayapura yang hadir untuk menyaksikan even wisata dan budaya negeri Port Numbay, bertempat di pantai wisata Hamadi, Minggu (6/8)

Ibu TEA. Hery Dosinaen saat memberikan kain Timor kepada Wali Kota Jayapura 
Ketua Flobamora Kota Jayapura, Agripa Wali mengatakan pihaknya merasa bangga karena bisa berpartisipasi dalam memeriahkan Festival Teluk Humboldt tahun 2017 dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-72 Tingkat Kota Jayapura.

“Masyarakat Flobamora disini juga merasa bahwa mereka adalah warga Kota Jayapura sehingga dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah kota,maka  dengan sadar kami sebagai warga kota yang baik harus ikut berpartisipasi pada kegiatan tersebut,” cetusnya.

Ditegaskan Wali, bahwa dimana pun merantau, mereka harus menunjukkan jati diri sebagai warga
Flobamora yang salah satunya melalui potensi budaya yang dimiliki seperti tarian tradisional yang diwakili masyarakat adat Lamaholot.

Hal ini akan terus berlanjut jika Pemkot Jayapura melaksanakan kegiatan yang sama agar masyarakat flobamora dengan budaya mereka bisa dikenal oleh suku-suku ataupun paguyuban lain yang ada di Kota Jayapura.

Wali Kota DR. Benhur Tomi Mano, MM berkesempatan memperagakan tari tenun 
Sekaligus juga memperkenalkan kepada masyarakat internasional yang turut hadir untuk menyaksikan penampilan adat mereka.

“Harapan kami kiranya adat yang ditampilkan tersebut bisa menjadi satu daya tarik bagi masyarakat internasional yang ada di saat menyaksikannya. Dan ini sudah menjadi komitmen masyarakat Flobamora dengan mengambil bagian pada Festival Teluk Humbold Tahun 2017,” tandasnya.

Pada hari ke tiga ini, turut diisi tarian adat dari 14 kampung dan tarian adat Papua lain serta lomba Dance Modern serta tarian adat Lamaholot asal NTT.

Sebanyak 500 orang dari masyarakat Flobamora dari 4 suku tampil dengan adat mereka.

Di tempat yang sama Ketua Lamaholot, Antonius, yang dikonfirmasi mengakui pihaknya dipercayakan menampilkan tarian tenun mewakili keluarga Flobamora pada festival Teluk Humbold 2017.

Tarian Dolo Dolo yang merupakan tarian persaudaraan menutupi rangkaian kegiatan 
Dijelaskan, Pulau Lamaholot yang berada di Flores Timur terdiri dari 4 pulau yaitu Adonara, Lembata, Solor dan Larantuka yang disatukan dalam satu bahasa yaitu bahasa lamaholot

“Kami dikenal dengan Lamaholot yang identik dengan kain tenun yang merupakan hasil olahan dari Ina-Ina (perempuan-perempuan) Lamaholot. Mulai dari  menanam, memetik dan membersihkan kapas selanjutnya memintal menjadi benang dan menenun  menjadi kain,” bebernya.

Hal itu, lanjut Antonius, menggambarkan ketekunan dan ketabahan dalam kehidupan membentuk karakter perempuan Lamaholot

“Semua anak Lamaholot diwajibkan untuk bisa membuat kain sehingga ketika seorang anak perempuan lahir, ari-ari  bayi tersebut diantar dengan tarian tenun dengan harapan dia tumbuh menjadi seorang
anak yang tabah dan tekun, serta rajin dan tangguh,” lanjutnya.

Sejumlah turis mancanegara turut menikmati gelaran Festival Teluk Humbold Tahun 2017
Sambung Antonius, hasil kebun yang diserahkan kepada Wali Kota menggambarkan mata pencarian mereka adalah berkebun pisang yang dibawa karena sejak lahir.

“Makanan yang kami makan pertama adalah pisang karena tidak ada susu saat itu begitu pula minuman yang di berikan kepada Wali Kota adalah minuman persaudaraan. karena jika kami membuat satu acara harus ada minuman untuk menyegarkan dan itu merupakan lambang setiap pergi kemana pun, kami selalu membawa minuman-minuman untuk kita minum bersama-sama dalam satu wadah bambu yang menunjukkan bahwa persaudaraan itu tetap terjaga,” tandasnya.

Rangkaian adat ini di tutup dengan tarian persaudaraan yakni Tarian Dolo Dolo yang merupakan tarian persaudaraan.

“Dalam tarian ini, kita saling bergandengan tangan dan dimana pun berada, kita tetap bersaudara,” tukasnya.

(Har)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Kota Jayapura

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga