Sosialisasi UU Perlindungan Anak Penting Bagi Pendidikan Anak

Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi UU Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 oleh Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) setempat telah berakhir.
Share it:
Kepala DP3AKB Kota Betty A. Puy, SE, MPA saat memberikan arahan kepada peserta sosialisasi
Jayapura, Dharapos.com
Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi UU Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 oleh Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) setempat telah berakhir.

Kegiatan yang dilakukan pada 5 Distrik se Kota Jayapura masing-masing Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura, Heram dan Muara Tami ini juga mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Kepala DP3AKB Kota Jayapura, Betty A. Puy, SE, MPA menegaskan kepada peserta bahwa dengan adanya sosialisasi ini maka pikiran dan pandangan masyarakat menjadi terbuka.

“Selama ini pandangan kita keliru terhadap bagaimana cara mendidik anak yang baik. Tetapi melalui sosialisasi ini, mata kita terbuka dan bisa melihat serta mengetahui bahwa yang selama ini kita lakukan itu seperti apa,” urainya, saat menghadiri sosialisasi UU Perlindungan Anak yang berlangsung di Distrik Muara Tami, Jumat (4/8).

Sosialisasi ini sangat penting untuk dilakukan karena selaku kepala dinas, Betty mengaku jika dirinya banyak mendapat tantangan dari DPRD kota Jayapura terkait program-program yang hanya melakukan sosialisasi saja.

“Memang orang di Papua harus banyak diberikan sosialisasi dan harus diberitahukan banyak hal supaya mereka mengerti bahwa negara sangat memperhatikan anak-anak dan itu yang kita sampaikan,” akuinya.

Seperti bentuk-bentuk kekerasan yang ringan maupun berat dimana selama ini pedoman yang dipakai dengan selalu berpatokan pada kacamata guru belajar melalui cara-cara yang berbeda.

“Dengan kita belajar udang-udang hari ini, maka tangan dan mulut kita sudah mulai kita atur. Bahwa masih ada yang lebih baik ketimbang kita berbicara kasar dan memukul anak,” urai Betty.

Mungkin juga karena kurang mendapat perhatian di rumah sehingga saat berada di sekolah, anak membuat hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan.

Bahkan  guru berbicara hingga capek pun seperti tak dihiraukan sehingga terkadang mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya disampaikan kepada anak.

“Untuk itu. undang-undang tentang perlindungan anak ini yang akan mengatur kita terkait hak dan kewajiban para orang tua dalam mendidik anak,” cetusnya.

Betty juga pada kesempatan tersebut meminta kepada seluruh orang tua agar ketika menerima sosialisasi ini dan saat kembali ke rumah bisa memulai untuk mengurangi tindakan-tindakan yang selama ini membentuk mental anak menjadi tidak baik.

“Orang tua yang sering memaki anak harus bisa menahan diri dan harus menjaga mulut agar anak tersebut tidak melakukan yang sama kepada guru di sekolah ataupun temannya,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait ringan beratnya tindakan hukum bagi pelaku aksi kekerasan terhadap anak, Betty memastikan akan dilihat berdasarkan ringan dan beratnya kasus tersebut.

(Har)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Kota Jayapura

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga