Meski Membludak, Sebagian Penonton Film G-30s/PKI Mengaku Kecewa

Bertempat di lapangan Kampung Wonorejo PIR IV, Distrik Manem, Kabupaten Keerom telah dilaksanakan pemutaran film pengkhianatan G-30S/PKI.
Share it:
Kegiatan nonton bareng pemutaran film pengkhianatan G-30S/PKI bertempat di lapangan
Kampung Wonorejo PIR IV, Distrik Manem, Kabupaten Keerom, Sabtu (23/9)
Keerom, Dharapos.com
Bertempat di lapangan Kampung Wonorejo PIR IV, Distrik Manem, Kabupaten Keerom telah dilaksanakan pemutaran film pengkhianatan G-30S/PKI.

Kegiatan nonton bareng masyarakat ini sesuai dengan instruksi Panglima TNI menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober 2017.

Film ini mengisahkan adanya upaya pemberontakan terhadap pemerintah yang sah yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia diawali penculikan dan penyiksaan hingga mengakibatkan gugurnya tujuh Pahlawan Revolusi di Jakarta dan dua orang di Jogja pada 30 September 1965.

Di luar dugaan, masyarakat yang hadir Nobar ini membludak hampir setengah lapangan (lebih dari 350 orang).

Mereka rata-rata penasaran atas seruan atau himbauan Panglima TNI kepada seluruh jajaran TNI untuk melaksanakan kegiatan nonton bareng pemutaran film pengkhianatan G-30S/PKI.

Selain warga masyarakat, turut hadir pula para pelajar setingkat SMP dan SLTA yang sedang melaksanakan Perkemahan Saka Wira Kartika berbaur bersama.

Sebelum diadakan pemutaran film di awali sambutan oleh Kepala Kp. Wonorejo, Matheus Wey yang menekankan tentang pentingnya pemutaran film tersebut yang bisa ditonton oleh seluruh warga masyarakat agar tidak melupakan sejarah kelam bangsa Indonesia.

“Sepak terjang PKI tidak bisa lepas dari sejarah kelam bangsa Indonesia, mereka telah melakukan pemberontakan dua kali yaitu tahun 1948 di Madiun dan 1965 di Jakarta dan daerah lainnya, mari kita sama-sama saksikan pemutaran film ini agar kita selalu waspada akan bahaya laten Komunis” ajaknya sembari mengingatkan warganya.

Sejak orde baru menjelang tanggal 30 September, TV nasional wajib memutar film pengkhianatan G-30S/PKI, tetapi setelah berakhirnya masa orde baru film ini tidak ditayangkan lagi.

Dengan adanya penayangan ini membuat masyarakat merasa disuguhi pelajaran sejarah bangsa Indonesia kelam yang hampir saja terlupakan.

Meski demikian, seusai penayangan film, sebagian masyarakat mempertanyakan adanya bagian-bagian yang di sensor dimana banyak adegan yang dihilangkan dan tidak sesuai dengan aslinya.

Mereka pun kecewa karena menurut penilaian mereka film sudah tidak asli lagi, sementara masyarakat menginginkan pemutaran film apa adanya.

"Kok cepat sekali, biasanya (film) kurang lebih tiga jam, ini kok cuman satu jam. Banyak yang disensor lagi. Wah, kalau begini mereka (kelompok PKI) masih bisa diuntungkan. Bagaimana kebiadaban para PKI tidak terlihat di sini ," beber Zaenudin warga PIR IV agak sedikit kecewa.

Bagi masyarakat yang sudah pernah menonton film aslinya sebelum di sensor banyak yang mengeluhkan karena mereka beranggapan bahwa seharusnya sepahit apapun sejarah tidak boleh melupakan sejarah agar tidak terulang.

"Itu adegan penyiksaan tidak ada. Dulu ada yang di silet dibacok dan diseret, di film ini tidak ada lagi. Penculikan cuman seorang Jenderal saja, yang lain mana. Padahal disinilah kita saksikan betapa kejam dan bengisnya PKI,” ungkap Tursim.

Namun pendapat berbeda disampaikan Veronika yang juga Guru SMP Negeri 1 Arso, pengajar bidang studi IPS.

“Kalau saya setuju dengan film yang sekarang (versi TNI yang sudah melalui sensor), karena banyak anak yang ikut menonton film ini. Masak anak-anak kita suguhkan adegan yang beginian (adegan sadisme),” sambungnya.

Setelah selesai pemutaran film pengkhianatan G-30S/PKI, Dansatgas Yonif 410/Alugoro Letkol. Inf. M. Heri Amrullah, S.Sos. memberikan kuis kepada seluruh penonton khususnya para pelajar yang sedang melaksanakan Perkemahan Saka Wira Kartika seputar isi dari flim G-30S/PKI dengan memberikan beberapa hadiah yang sangat menarik.

Para penonton pun semangat dan berebut untuk menjawab kuis yang disampaikan oleh Dansatgas.

Para siswa diminta menyebutkan Pahlawan Revolusi, tetapi mereka banyak yang tidak bisa menjawab.

Hasil wawancara kepada beberapa orang siswa dan siswi, rata-rata mengaku belum di ajarkan di sekolah.

Dan mereka pun baru kali ini menonton film ini meski tidak ditayangkan bagaimana proses penculikan para korban satu persatu.

(Piet)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga