Pekerja Perempuan di Sektor Transportasi Laut Masih Minim

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Prof. Yohana Yembise mengakui bahwa kesempatan kaum perempuan untuk berkarier di sektor transportasi khususnya laut tidak seluas yang diperoleh oleh laki-laki.
Share it:
Menteri PPPA, Prof Yohana Yembise saat menyematkan tanda peserta kepada salah satu taruna perempuan peserta
Seminar Nasional Kesetaraan dan Keadilan Pekerja Perempuan di Sektor Transportasi dalam rangka
Meningkatkan Pemberdayaan Perempuan Pekerja Transportasi Indonesia di Bidang Ekonomi
Surabaya, Dharapos.com
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Prof. Yohana Yembise mengakui bahwa kesempatan kaum perempuan untuk berkarier di sektor transportasi khususnya laut tidak seluas yang diperoleh oleh laki-laki.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa masih ada resistensi terhadap para kaum hawa ini sehingga pekerja di sektor tersebut masih minim.

Hal tersebut disampaikannya  pada Seminar Nasional Kesetaraan dan Keadilan Pekerja Perempuan di Sektor Transportasi dalam rangka Meningkatkan Pemberdayaan Perempuan Pekerja Transportasi Indonesia di Bidang Ekonomi”.

Sebagaimana rilis yang diterima Beritapapua.Dharapos.com dari Publikasi dan Media Kementerian PPPA, Jumat (8/9) seminar tersebut berlangsung sejak 6 - 7 September di atas KM. Umsini dalam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya.

Di atas kapal milik PT. PELNI ini,  Menteri mendengarkan dan turut merasakan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum pekerja perempuan di sektor transportasi

Lanjutnya, keterlibatan pekerja perempuan di sektor transportasi tercatat pertama kali ketika beberapa bulan yang lalu mereka mengunjungi kantor Kementerian PPPA yang selama ini menjadi mitra.

“Dari situ saya menyadari, bahwa ternyata banyak perempuan-perempuan hebat di bidang transportasi yang belum banyak dikenal oleh publik. Makanya, dengan diadakannya seminar ini agar kita dapat mendengarkan pengalaman sosok-sosok perempuan hebat pekerja transportasi,"  papar Menteri Yohana.

Meski demikian,  diakuinya, walaupun prestasi mereka sudah merambah ke level internasional dan secara aturan perundangan tidak ada halangan bagi kaum perempuan untuk berkarier di sektor transportasi namun kenyataannya peluang itu tidak seperti yang dimiliki laki-laki.

Menteri Yohana juga mengapresiasi seminar yang diinisiasi oleh Pemerhati Perempuan Pelaut Indonesia atau ILS Indonesian Lady Seafarers) karena merupakan seminar yang pertama kali dilakukan di atas kapal.

Selain itu juga, melibatkan mitra pekerja perempuan di sektor transportasi.

“Saya mengapresiasi Pemerhati Perempuan Pelaut Indonesia atau ILS dan pihak lainnya, yang telah menginisiasi kegiatan seminar nasional yang cukup unik, karena diselenggarakan di atas kapal,” ucapnya.

Menteri Yohana pun berharap masyarakat bisa lebih peduli pada perempuan pekerja di sektor transportasi dan akan menindaklanjuti hasil seminar dalam bentuk deklarasi yang akan disampaikan kepada Presiden RI dan ditembuskan kepada Kementrian/Lembaga terkait.

"Saya berharap seminar ini dapat menggali lebih dalam lagi berbagai pengalaman dan persoalan yang dirasakan oleh kaum perempuan pekerja di sektor transportasi, baik darat, udara, dan laut dan dapat ditularkan kepada elemen masyarakat lainnya, sehingga semakin banyak masyarakat yang berkomitmen dan peduli,” harapnya.

Menteri Yohana juga mendorong media dapat membantu mengangkat sosok-sosok perempuan yang bekerja di sektor transportasi.

Hal senada juga disampaikan Nahkoda perempuan pertama PELNI, Captain Kartini bahwa masih banyak perusahaan pelayaran yang menolak perempuan.

"Setelah kami lulus dari Akademi Ilmu Pelayaran atau Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), perusahaan yang hanya menerima saya hanyalah PELNI. Dan selama di PELNI saya memang tidak merasakan adanya diskriminasi,” bebernya.

Namun, yang terjadi pada angkatan perempuan pelaut di bawahnya, masih banyak perusahaan pelayaran yang tertutup, tidak mau menerima kadet atau perwira perempuan.

Padahal, sekarang banyak pelaut atau nahkoda perempuan yang bekerja di kapal wisata asing.

“Ilmu dan ujian yang kami dapatkan sama dengan kaum laki-laki saat di asrama, namun ketika kami menjadi kadet atau perwira masih merasa disisihkan. Kami dianggap seolah-olah sebagai penghalang bagi kaum laki-laki. Hal inilah yang ingin kami perjuangkan dan buktikan, bahwa perempuan bisa dan mampu melaksanakan tugas di bidang transportasi," tegas Kartini.

Adapun hasil Rekomendasi dan Deklarasi Perempuan Pekerja Transportasi Indonesia antara lain,

1. Menolak segala bentuk diskriminasi dan kekerasan yang terjadi terhadap perempuan pekerja transportasi.

2. Memperkuat lembaga yang sudah ada yang berfungsi untuk mengawasi dan menyelesaikan permasalahan diskriminasi dan kekerasan yang dialami oleh perempuan pekerja transportasi.

3. Perlu adanya affirmative action (tindakan afirmasi) bagi perempuan pekerja transportasi di Indonesia

4. Mendorong dilaksanakannya sosialisasi tentang pentingnya kesadaran terhadap hak-hak perempuan pekerja transportasi kepada perusahaan transportasi di Indonesia.

(Piet)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga