Ritual Adat Bakar Batu - Patah Panah Akhiri Konflik 2 Kampung di Mambra

Dua kampung di kabupaten Mamberamo Raya (Mambra) baik Burmeso dan Royali yang diketahui tidak akur sejak 2014 lalu akhirnya berdamai.
Share it:
Kapolres AKBP Dominggus Rumaropen, S.Sos, MM  menjadi saksi prosesi ritual adat patah panah dan potong tali
busur yang menandai berakhirnya konflik kampung Bormeso dan Royali yang berlangsung sejak 2014 lalu
Jayapura, Dharapos.com 
Dua kampung  di kabupaten Mamberamo Raya (Mambra) baik Burmeso dan Royali yang diketahui tidak akur sejak 2014 lalu akhirnya berdamai.

Perdamaian tersebut dilakukan acara adat yaitu dengan menggelar ritual adat bakar batu serta mematahkan panah dan pemotongan tali busur.

Proses damai ini tak lepas dari peran AKBP. Dominggus Rumaropen, S.Sos, MM sejak menjabat sebagai Kapolres Mamberamo Raya, Agustus lalu.

Langkah yang di lakukan, dengan melakukan pendekatan secara persuasif, atau dengan kata lain pendekatan secara kekeluargaan.

Sikap kepemimpinan perwira Polri asal Pulau Biak ini, yang selalu mengedepankan asas kekeluargaan dan mengandalkan Tuhan dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya sejak menjabat Kapolsek Abepura, Kasatpol PP Kota Jayapura hingga jabatan baru yang kini dipercayakan negara yakni Kapolres Mambra.

Proses perdamaian dilakukan atas inisiatif Kapolres dengan mengambil langkah menggelar ritual  adat bakar batu hingga mematahkan panah dan pemotongan tali busur.

“Upaya itu berhasil dan masyarakat dari kedua kampung, kembali beraktivitas seperti biasa dan tidak saling curiga,“ ungkap Rumaropen yang dikonfirmasi, Rabu (13/9).

Momen perdamaian tersebut juga dihadiri Bupati Mambra, anggota DPRD setempat, serta tokoh-tokoh masyarakat dan kedua suku yang bertikai.

Ratusan masyarakat dari 2 kampung berbaur bersama menyaksikan momen terjadinya perdamaian
“Dengan dilakukan pematahan panah dan makan bersama maka di situlah perdamaian kedua kampung terjadi. Dari ombak pecah sampai air menetes dari muara Mamberamo sampai batasan pegunungan, kita adalah saudara dan keluarga besar Mamberamo Raya Papua,” tandasnya.

Ketika disinggung soal kondisi kamtibmas pasca dirinya menjabat Kapolres Mambra, Rumaropen enggan berkomentar banyak.

“Secara jujur saya tidak bisa menilai kinerja saya sendiri artinya tidak bisa menilai tugas-tugas kepolisian yang dilaksanakan tetapi para tokoh maupun masyarakat hingga Pemerintah daerah yang menilai dan merasakan bagaimana situasi yang lalu dan situasi saat ini,” ujarnya.

Intinya, lanjut Rumaropen, pihak akan terus melakukan pola-pola pendekatan kekeluargaan atau persuasif kepada semua pihak, guna memberi rasa aman dan nyaman.

Ditambahkan, kebiasaan warga masyarakat berjalan membawa panah maupun parang di Mambra hanya merupakan suatu kebiasaan.

“Tapi secara perlahan kami terus berkoordinasi dengan Pemerintah daerah setempat untuk kita membangun komunikasi dan sosialisasi bagaimana hidup bermasyarakat serta beradaptasi dengan lingkungan karena daerah ini merupakan wilayah kabupaten sehingga semua orang datang dari luar untuk hidup bersama,” tukasnya.

Olehnya itu, diharapkan upaya-upaya pihaknya dalam rangka merubah cara pandang dan berpikir masyarakat dari pola hidup yang masih menggunakan panah ataupun membawa parang karena masih mencurigai bahwa ada musuh di sekitar mereka bisa berhasil di rubah.

(Har)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Mamberamo Raya

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga