BBPOM Jayapura Gelar Program Pengawasan Pangan Fortifikasi

Bertempat di Hotel Arumbai Biak, Kamis (12/10) berlangsung kegiatan Program Pengawasan Pangan Fortifikasi kepada Pelaku Usaha dan Masyarakat oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Jayapura.
Share it:
Foto bersama usai kegiatan Program Pengawasan Pangan Fortifikasi kepada Pelaku Usaha dan
Masyarakat oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Jayapura
Biak, Dharapos.com
Bertempat di Hotel Arumbai Biak,  Kamis (12/10) berlangsung kegiatan Program Pengawasan Pangan Fortifikasi kepada Pelaku Usaha dan Masyarakat oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Jayapura.

Kegiatan ini bertujuan untuk penyebaran informasi terkait program pengawasan pangan fortifikasi kepada pelaku usaha dan masyarakat.

Sebenarnya maksud kegiatan ini hampir sama dengan kegiatan komunikasi informasi dan edukasi Jayapura hanya saja lebih menitikberatkan pada pengawasan pangan.

Dihadiri lintas sektor terkait,  seperti perdagangan, kesehatan dan Balai POM sendiri, Dinas Perikanan, Perindustrian,  Pertanian dan juga dari distributor seperti toko - toko dan produksi - produksi roti serta ada juga masyarakat umum yang hadir.

Fortifikasi pangan adalah pangan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah yang wajib ditambah fortifikan atau zat untuk ditambahkan pada pangan tertentu.

Dra. Nurjaya Kadir 
“Pangan yang saat ini wajib di fortifikasi adalah tepung terigu, garam dan minyak kelapa sawit, dan hal ini sudah berjalan dan sudah dilakukan di Indonesia,” terang Dra. Nurjaya Kadir Kabid. Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya BBPOM Jayapura, yang dikonfirmasi, Kamis (12/10).

Dan untuk Biak, cuma ada pabrik garam dan salah satu pangan yang wajib diberikan yodium.

Selain Biak, Nabire pun demikian karena disana juga ada pabrik garam, sementara untuk tepung terigu di Papua belum ada tetapi pengawasan tetap berjalan.

Pangan fortifikasi yaitu menambahkan zat - zat tertentu kepada pangan tertentu seperti untuk tepung terigu ditambahkan zat besi, Zn dan fitamin B, sementara untuk garam ditambahkan Yodium.

Hal ini berfungsi agar supaya pemenuhan gizi terutama kepada anak-anak bisa lebih terjangkau karena itu memang pangan yang rutin di konsumsi.

Apabila bahan yang telah disebutkan tadi tidak di fortifikasi maka akan berdampak seperti misalnya bahan garam jika kekurangan yodium maka akan berdampak adanya penyakit gondok dan IQ rendah.

“Sedangkan untuk tepung jika kekurangan zat besi, Zn dan vitamin B maka tubuh kita akan cepat lelah, tidak berproduktifitas dan mudah terinfeksi penyakit dikarenakan daya tahan tubuh yang menurun,” urainya.

Tindakan yang diambil oleh BPOM apabila terjadi kekurangan pada bahan pangan yang telah disebutkan tadi yaitu apabila uji laboratorium dan hasilnya dibawah standar yang ditentukan difortifikannya maka akan dilaporkan dan diberitahu bahwa bahan yang difortifikan kurang pada bahan tertentu sehingga ditambahkan kembali.

“Untuk bahan pangan garam di Papua masih aman walaupun masih ada di beberapa tempat yang yodiumnya kurang tetapi sudah ditambahkan,” tandasnya.

(Hend DK)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Kesehatan

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga