Produksi Padi di Koya Barat Naik 4 Ton per Hektar

Produksi padi di Koya Barat, Distrik Muara Tami yang dibudidayakan masyarakat setempat kini cenderung meningkat.
Share it:
Kepala Distan Kota Jayapura, Jean H. Rollo (kanan) saat berdiskusi dengan Wawali Ir. H. Rustan
Saru, MM saat meninjau lahan pertanian di Koya Barat dan Timur, Sabtu (7/10) 
Jayapura, Dharapos.com
Produksi padi di Koya Barat, Distrik Muara Tami yang dibudidayakan masyarakat setempat kini cenderung meningkat.

Produktivitas dari padi yang dibudidayakan oleh petani di Koya Barat cenderung produksinya naik mulai dari 2,5 ton per hektar, hingga terakhir ini berada pada rata-rata produksi 4 ton per hektar.

“Pemerintah kota dalam hal ini Dinas Pertanian Kota Jayapura akan terus berupaya agar lahan pertanian di wilayah Koya Barat kita pertahankan karena posisi capaian terakhir naik menjadi 4 ton per hektar,” tandas Kepala Dinas Pertanian Kota Jayapura, Jean H. Rollo, usai mendampingi Wakil Wali Kota Jayapura saat mengunjungi lahan pertanian Koya Barat dan Timur, Sabtu (7/10).

Kadis merincikan beberapa upaya yang dilakukan pihaknya untuk meningkatkan produksi yaitu dengan mencoba menyiapkan bibit unggul yang saat ini lagi ditanam untuk musim ini yaitu jenis  ciherang dan cigeulis.

“Keduanya merupakan varietas unggul nasional,” lanjutnya.

Selain itu, upaya lain dinas teknis, yaitu dengan mencoba mengambil benih unggul tersebut dari Balai Besar Padi Sukamandi termasuk di Balai Benih Hidup Padi di kurik milik Pemerintah Provinsi Papua.

“Dari bibit yang ada, kita coba bagikan benih kepada petani penagkar untuk dikembangkan guna memenuhi kurang lebih 12,5 ton setiap musim tanam artinya kurang lebih 25 ton per tahun kita siapkan,” sambung Kadis.

Diakuinya, mitra kerja pihaknya dengan kelompok petani penangkar berjalan dengan baik sehingga kurang lebih 5 tahun terakhir ini persoalan benih tidak menjadi persoalan untuk Kota Jayapura.

“Karena kita memproduksinya cukup baik bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya dimana kita datangkan benih dari Makassar namun hal itu membutuhkan biaya yang cukup besar,” akui Kadis.

Di samping itu juga, pupuk saat ini sudah lebih baik dari tahun sebelumnya karena sebelum musim tanam pihaknya sudah menyusun rencana definitif kebutuhan kelompok khusus pupuk.

“Dari rencana definitif, kita buat SK dan dikirim ke Dinas Pertanian Provinsi untuk diteruskan ke Kementrian Pertanian RI, kemudian ditindaklanjuti BUMN yang ditunjuk untuk pengadaan pupuk siap menyalurkan ke para petani,” bebernya.

Apa yang ditemui di lapangan dimana kondisi pertanaman padi dibandingkan tahun sebelumnya dan tahun terakhir ini dimana luas tanam berkurang dan itu menjadi sebuah kenyataan.

Pasalnya, tahun emas Koya Barat dan Timur yang dulunya dikenal memiliki hamparan padi yang luas kini menjadi berkurang karena ada masyarakat yang ingin mengembangkan usaha ikan air tawar.

Bahkan hampir sebagian besar masyarakat di Koya Timur beralih ke pengembangan budidaya ikan air tawar, padahal dulunya merupakan lahan persawahan.

Ditambahkan juga terkait dengan laporan petani bahwa 6 alat penanam padi transplanter  sudah tidak berfungsi, ternyata itu tidak benar

“Padi merupakan komoditi strategi nasional sehingga setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang mengembangkan padi dengan potensinya secara real, luas tanam hingga luas panen yang dilaporkan maka Pemerintah provinsi membantu alat tersebut,” cetusnya.

Dengan demikian, Distan Kota pun memiliki tanggung jawab untuk melatih para operator.

“Namun karena Rice Transplanter baru didatangkan pada tahun 2017 sehingga pelatihan para operator baru akan dilakukan pada 2018 mendatang,” tukasnya.

Selain Rice Transplanter, Distan juga diberikan Rice Combine Harvester dari Pempus yang merupakan mesin panen kombinasi yaitu memotong dan mengisi di dalam karung.

Mengoperasikan alat tersebut sama dengan hand traktor sehingga saat para petani dilatih penggunaannya maka mereka bisa mengoperasikan.

Kadis menambahkan alat tersebut memang belum dioperasikan karena baru didatangkan dari Jakarta pada tahun ini juga harus menunggu operator.

Sementara tenaga operator khusus untuk Rice Transplanter milik Distan Kota Jayapura belum ada sehingga nanti diminta operator dari provinsi Papua untuk melakukan pelatihan.

“Untuk mesin tanam ini, Januari 2018 sudah mulai digunakan karena kehadiran mesin ini artinya dia menekan biaya produksi khusus untuk tenaga kerja,” tukasnya.

(Har)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Kota Jayapura

Masukan Komentar Anda:

0 comments: