Wawali Minta KPA Kota Jayapura Pastikan Data Penderita

Konsultasi publik sangatlah penting guna merumuskan kebijakan program strategis Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Jayapura 5 tahun ke depan, terkait kondisi dan situasi dalam penanggulangan HIV/AIDS di wilayah tersebut.
Share it:
Wawali Ir. H. Rustan Saru, MM (tengah) saat memberikan sambutan
Jayapura, Dharapos.com 
Konsultasi publik sangatlah penting guna merumuskan kebijakan program strategis Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Jayapura 5 tahun ke depan, terkait kondisi dan situasi dalam penanggulangan HIV/AIDS di wilayah tersebut.

Diperlukan ada pola standar strategis serta target yang harus dirumuskan dari langkah-langkah yang dilakukan.

Kurang lebih 4000 warga Kota Jayapura yang terinfeksi virus HIV/AIDS sehingga diperlukan pembagian atau penjelasan secara mendetail setiap tahun mengingat saat ini ibukota provinsi di ujung timur Indonesia ini menempati ranking tiga di Papua.

“Untuk itu, konsultasi publik ini perlu dilakukan sehingga target ini bisa kita turunkan,“ ungkap Wakil Wali Kota Ir. H. Rustan Saru, MM pada acara Konsultasi Publik Perencanaan Strategis Program HIV Kota Jayapura periode 2018-2022, Jumat (13/10).

KPA Kota diminta merencanakannya dengan matang terkait langkah-langkah kebijakan sehingga bisa menyentuh semua masyarakat dengan ikhlas, rela dalam melakukan pendekatan, sosialisasi informasi atau pendekatan kemanusiaan agar mereka bisa merangkul semuanya, terutama menyentuh masyarakat kalangan bawah.

Diakui Wawali, data terakhir terkait jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Jayapura masih mengambang dan belum terinci secara mendetail.

“Sehingga tugas KPA adalah untuk mengumpulkan data seakurat mungkin baik secara nyata dan valid karena data yang ada belum valid. Dalam hal ini, sudah ada yang meninggal atau sudah pindah ke luar daerah atau mungkin saja sudah sembuh,” lanjutnya.

Dari 4000 tersebut, sambung Wawali harus juga di kategori berapa jumlah penderita dewasa, anak dan orang tua yang disesuaikan dengan umur termasuk sudah berapa tahun terkena HIV/AIDS.

Untuk itu, Wawali meminta masyarakat jangan takut untuk diperiksa karena semakin cepat diperiksa maka semakin mudah diidentifikasi dan diberikan advokasi pendampingan serta pengobatan hingga lama-kelamaan mendapatkan kesembuhan.

“Yang kita khawatirkan ketika tidak diketahui orangnya kemudian melakukan hubungan seksual di luar nikah dan terinfeksi ke orang lain sehingga perlu pengawasan, pendekatan dan sosialisasi untuk memeriksa masyarakat di kota ini,” tandasnya.

Pihaknya masih memikirkan terkait cara lain untuk memudahkan pengecekan jika masyarakat tidak mau memeriksakan diri.

Sementara itu, Sanceri Imbiri dari Komunitas Cendrawasih Plus menyatakan terkait perencanaan program HIV/AIDS, KPA Kota Jayapura merupakan salah satu tujuan yang sangat luar biasa.

“Dalam hal ini adalah untuk bagaimana ke depan ada keterlibatan teman-teman yang positif HIV/AIDS serta adanya pemerataan bagi komunitas HIV AIDS sehingga kita bisa melihat sama-sama perkembangan mereka,” cetusnya.

Dengan harapan ke depan, teman-teman yang positif HIV/AIDS bisa mendapat perubahan sehingga mereka bisa hidup lebih sehat.

“Semua teman-teman memiliki talenta namun sampai saat ini mereka masih bingung harus berbuat apa. Karena HIV menurut saya bukan ujung dari hidup kita tapi bagaimana kita mau untuk berjuang untuk tetap dan mengambil keputusan yang bijak bahwa saya tidak takut dengan apapun yang terjadi tetapi saya mau menjadi berkat,” tukasnya.

(Har)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Kota Jayapura

Masukan Komentar Anda:

0 comments: