Program BBM Satu Harga di Ilaga Puncak Mulai Tunjukan Hasil

Sejak diberlakukan program Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga pada sejumlah kabupaten di kawasan Pegunungan Tengah Papua, kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut kini mulai mengalami peningkatan.
Share it:
Ilustrasi program BBM Satu Harga di Papua
Ilaga, Dharapos.com 
Sejak diberlakukan program Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga pada sejumlah kabupaten di kawasan Pegunungan Tengah Papua, kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut kini mulai mengalami peningkatan.

Salah satu wilayah dimaksud yakni di Ilaga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua.

Masyarakat setempat mengakui, sejak harga BBM turun dari Rp50 ribu per liter menjadi Rp6.450 per liter, setahun lalu, taraf hidup dan perekonomian juga bergerak naik.

“Pengeluaran bisa ditekan, kesejahteraan tentu saja meningkat,” kata Murni Wagai, seorang warga, di Ilaga, yang dikonfirmasi, Selasa (14/11).

Murni mencontohkan, terkait biaya sehari-hari, sekarang harga sayur-mayur sudah jauh lebih murah.
Buktinya, dengan uang Rp50 ribu, saat ini dirinya bisa membeli 6 ikat sayur. Padahal, ketika harga BBM masih selangit, dengan jumlah uang yang sama, dia hanya bisa membeli satu ikat sayur.

Seragamnya harga BBM, secara tidak langsung memang membuat harga barang-barang kebutuhan menjadi murah.

Sayur misalnya, selama ini harus diangkut dengan ojek dari daerah perbukitan menuju pasar Ilaga. Dengan turunnya harga BBM, ongkos ojek juga menjadi murah, sehingga harga sayur pun turun drastis.

“Harga sayur kini turun karena ongkos ojek sudah tidak mahal,” ujarnya.

BBM Satu Harga di Ilaga, yang diresmikan 17 Agustus 2016 memang berdampak baik bagi masyarakat. Karena melalui program tersebut, tingginya biaya pengangkutan BBM, menjadi tanggungan Pertamina.

Pada prakteknya, lembaga penyalur Pertamina tetap menjual Premium dengan harga Rp 6.450 per liter dan Solar dengan harga Rp 5.150 per liter. Harga ini jauh lebih murah, karena secara ekonomis, harusnya harga BBM bisa mencapai Rp50 ribu per liter.

Tingginya biaya pengangkutan ke Ilaga bisa dipahami. Pasalnya, untuk menuju daerah yang berada ketinggian 7.500 kaki itu, BBM harus diangkut dengan pesawat Air Tractor, berkapasitas 4 KL per sekali angkut.

Miati Ridwan, warga Ilaga, juga mengakui dampak positif BBM Satu Harga.

Bahkan menurutnya, program tersebut juga berimbas baik terhadap pendidikan anak-anak.

Pasalnya, dengan turunnya harga BBM, turut mengurangi pula biaya BBM yang dibutuhkan untuk menggerakkan genset di malam hari, yang sangat dibutuhkan bagi anak-anak untuk belajar.

“Ilaga belum dialiri listrik. Semua rumah mempergunakan genset untuk penerangan. Dulu, anak-anak tidak bisa belajar setiap malam, karena kami harus mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk bisa membeli BBM. Tetapi sekarang, anak-anak bisa belajar setiap hari. Semoga mereka bisa makin pintar,” jelas Miati.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Puncak, Abraham Bisay yang dikonfirmasi turut membenarkan itu dimana masyarakat semakin merasakan dampak positif program tersebut.

Hal ini antara lain terlihat, dengan semakin meningkatnya kebutuhan BBM di masyarakat.

“Peningkatan permintaan BBM ini juga, pada akhirnya memang menunjukkan bahwa roda perekonomian juga semakin menggeliat di Ilaga,” tandasnya dengan penuh optimisme.

Dan untuk itu pula,  Abraham berharap, adanya penambahan pasokan BBM untuk wilayah tersebut.

“Kebutuhan kami sudah cukup tinggi. Setidaknya (ada) penambahan pasokan untuk menghindari penjualan BBM di kios sebesar Rp 50 ribu per liter dan menghindari penimbunan BBM pada bulan Desember nanti,” tukasnya.

(Har)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga