Peduli KLB, JWW kunjungan ke Asmat

Peduli akan kejadian luar biasa (KLB) di Kabupaten Asmat, Bakal Calon Gubernur Papua, John Wempi Wetipo (JWW) berkunjung langsung ke wilayah tersebut.
Share it:
JWW saat turun tangan membantu memakaikan pakaian ke salah satu bayi di posko rehabilitasi  
Jayapura, Dharapos.com
Peduli akan kejadian luar biasa (KLB) di Kabupaten Asmat, Bakal Calon Gubernur Papua, John Wempi Wetipo (JWW) berkunjung langsung ke wilayah tersebut.

Kedatangannya Jumat (26/1/2018)siang untuk melihat sejauh mana KLB gizi buruk dan campak yang dialami anak-anak balita setempat.

Mengemban misi kemanusiaan melalui Yayasan Baliem Mission Center (BMC) yang dipimpinnya, kedatangan pasangan Habel Melkias Suwae di Pilgub Papua ini tidak hanya sebatas memberikan bantuan saja.

JWW malah ikut berbaur dengan para orang tua anak bahkan turut membantu memakaikan pakaian anak-anak yang dirawat di posko rehabilitasi.

Diakuinya,  informasi yang diterima merincikan saat ini ada 70 anak balita meninggal dunia lantaran wabah gizi buruk dan campak dimana ditemukan 646 anak terkena wabah campak dan 144 anak menderita gizi buruk.

Selain itu, ditemukan pula 25 anak suspek campak dan 4 anak yang terkena campak dan gizi buruk.

“Hingga saat ini ada 93 pasien yang menjalani rawat inap di Agats, masing-masing 41 orang di RSUD Agats dan 52 pasien di aula Gereja GPI. Kasus KLB ini, juga sudah menjadi perhatian publik dan direspons baik oleh pemerintah pusat,” puji JWW.

Ia juga mengapresiasi Pemda Asmat yang sudah sangat maksimal dan luar biasa memberdayakan masyarakatnya.

"Saya ingat kata dr. Samratulangi, manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia,” mengapresiasi upaya Pemda setempat yang dengan cepat menangani KLB ini.

JWW juga berharap, dengan segala upaya yang dilakukan Pemda dan juga Pempus bekerja sama dengan TNI dan Polri merehabilitasi KLB yang dialami anak-anak di daerah itu, ditindaklanjuti dengan mencari solusi jangka panjang agar kejadian serupa tak terulang lagi.

“Kalau saya melihat, ini bukan masalah wabah campak dan gizi buruk. Namun, masalahnya ada di ketahanan pangan penduduk setempat. Andaikan, ketahanan pangan mereka baik, dipastikan masyarakat tak lagi mengalami yang namanya gizi buruk,” tambahnya

Dikatakannya ketahanan pangan di Asmat, sangat lemah, ditambah kehidupan masyarakat yang jauh dari akses bahan pangan yang diperoleh di pasar atau pun di distribusikan Pemda melalui Bulog dan raskin.

“Tadi saya berdikusi dengan orang tua anak yang mendapat rehabilitasi gizi buruk. Dia itu mengaku jika kehidupan mereka sangat susah dan berada di wilayah terpencil serta jauh dari akses transportasi. Itulah yang membuat mereka tak bisa memperoleh asupan gizi dan makanan layak komsumsi,” bebernya.

Kedepannya JWW kembali berharap, harus ada upaya bersama untuk mengajari mereka bercocok tanam dan mengelolah makanan yang baik.

Ia juga mengingatkan semua pihak untuk tak mencari kambing hitam atas kasus ini. Apalagi menyalahkan Pemda tak mampu mengelola anggaran khususnya 80 persen dana Otsus yang diberikan Pemerintah Provinsi Papua kepada kabupaten.

“Dana Otsus yang masuk ke Asmat itu Rp 106 Miliyar dari 80 persen yang diberikan kepada mereka. Tapi itu bukan sepenuhnya untuk dikelola di bidang kesehatan, namun dibagi-bagi untuk kegiatan lain. Jadi totalnya Rp 15 Miliar. Ini kabupaten baru, dengan dana seperti itu dan lokasi yang sulit ini, tentu sangat kecil. Jadi tak perlu kita cari kambing hitam atas kasus ini,” tukasnya.

(Vian)
Share it:

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga